Atas Nama
30 Januari 2011
Elegi Kebohongan selalu saja masih terjadi. Atas Nama Tuhan, Rakyat Dan Manusia Tertindas oleh kebohongan dan kemunafikan para pemimpin. Seolah-olah mendayu menuju kemajuan demi kesejahteraan, namun yang terjadi malah kerterpurukan bagai kapal karam yang pecah. Atas Nama semuanya selalu dilakukan tapi tak kunjung datang kedamaian. Suara tak lagi terdengar, yang ada hanya curhat dari tingkah lakunya. Bilang jujur tapi tak ada nyata yang teraba. Betapa manisnya janji mereka yang telah diberikan kepada yang mendengarkan dan berharap adanya perubahan. Para petani yang miskin telah menanam padi untuk dituai dan memberi kita makan, tapi apakah tangisannya dapat terdengar ketika ladangnya digusur Atas Nama pembangunan atau bahkan teriak ketika harga benih, pupuk dan lain-lainya melambung tinggi tak terbeli. Bahkan hasil panennnya dibeli sangat murah oleh para tengkulak atas nama koperasi unit desa. Apakah telinga sudah tak dapat mendengarnya? Atau hanya seolah-olah tak terdengar bagaikan peribahasa anjing menggonggong dan kafilah berlalu. Nafas yang terengah dibawah teriknya matahari dan membakar kulit demi sebutir beras. Sungguh ironis. Sampai kapan perih itu dirasakan. Apa yang harus dilakukan oleh para pemuda pemudi bangsa yang tak dianggap oleh bangsanya sendiri.
Memang sebuah perjalanan panjang, banyak cerita yang telah disaksikan dan disampaikan. Lalu apakah jawaban mengapa keadaan ini masih terus berlalu. Tak ada yang lain selain revolusi. Tanpa kepentingan pribadi maupun kelompok dan pengaruh dari pihak luar melainkan mengedepankan kesejahteraan bersama seluruh rakyat.