Logika Sosial efek Hiperteknologi

Posted in Uncategorized on 4 Desember 2009 by fdr lamser

Ada dua logika sosial sebagai efek dari perkembangan hiperteknologi, yang secara intensif dimanfaatkan para teroris dalam menciptakan “hiperterorisme”.  Pertama,  logika ketidakterlihatan (logic of invisibility). Perkembangan teknologipengawasan dan teknologi pengintaian mutakhir, berupa satelit, radar, kamera video, dan internet telahmemungkinkan setiap orang, termasuk teroris,untuk memanfaatkannya.

Kedua, logika ‘miniaturisasi’ (logic miniaturization). Perkembangan teknologi simulasitelah menciptakan sebuah dunia “miniaturisasi tindakan.” Yaitu, pengambilalihan persepsi langsung mengenai ruang nyata oleh model-model representasinya di dalam teknologi simulasi, yang memungkinkan penguasaan medan yang tidak lagi dibatasi oleh ruang.

Posted in Uncategorized on 12 November 2009 by fdr lamser

“You can if you think you can.”

Kalimat sakti yang pernah menjadi judul
buku legendaris karangan Norman Vincent Peale ini
memberikan satu pesan yang jelas : jika Anda senantiasa berpikir
positif, selalu merajut “mentalitas bisa” (can do attitude), dan
senantiasa membayangkan masa depan dengan gelegak optimisme,
maka percayalah, hidup Anda pada akhirnya benar-benar akan basah
kuyup dalam nirvana keberhasilan dan kebahagiaan.
Dan persis seperti itulah spirit yang dikandung oleh Law of Attraction
(LOA) – sebuah aliran keyakinan yang kini tengah digandrungi
dimana-mana. Maka simaklah petikan kalimat-kalimat berikut ini.
Rahasia besar kehidupan adalah hukum tarik menarik. Hukum tarik
menarik mengatakan bahwa kemiripan menarik kemiripan. Ketika
Anda membayangkan pikiran-pikiran, maka pikiran-pikiran itu dikirim
ke Semesta, dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal
yang serupa, dan lalu dikembalikan pada sumbernya, yakni Anda.
(dikutip secara bebas dari buku The Secret karangan Rhonda Byrne).
Dengan kata lain, jika Anda selalu membayangkan pikiran yang negatif
– kecewa, gagal, marah, selalu menyalahkan orang lain, frustasi, ragu,
merasa selalu kekurangan – maka gelombang pikiran itu akan
memantul ke semesta, menarik pikiran-pikiran negatif yang serupa,
dan lalu mengirim balik secara powerful kepada sumbernya, yakni
Anda. Lingkaran kelam negativisme ini perlahan namun pasti akan
membawa kita dalam lorong gelap tak berujung.
Dalam lorong gelap itulah, benih-benih spirit optimisme, raungan
keyakinan untuk mencengkram keberhasilan, dan daya juang untuk
merajut imajinasi positif, menjadi hilang tak berbekas. Hidup yang
nyata pada akhirnya akan berujung pada nyanyi bisu keterpurukan.
Itulah mengapa sebagian orang lalu memberi saran agar kita menjaga
jarak dari lingkungan yang hanya menebarkan energi kelam
negativisme. Toh sialnya, setiap hari rasanya kita selalu disergap
dengan energi negatif ini.
Ketika segenap partikel udara telah dipenuhi dengan energi
negative, dan ketika berderet narasi tentang masa depan yang muram
selalu menari dihadapan kita, maka apa yang sesungguhnya mesti kita
lakukan?
Kita tentu tak boleh membiarkan diri kita larut didalamnya, sebab itu
artinya hanya akan membuat kita terpelanting dalam kubangan nasib
yang penuh ratapan dan sembilu kepedihan yang tak berujung.
“Anda tak dapat menolong dunia dengan berfokus pada hal-hal negatif.
Ketika Anda berfokus pada peristiwa-peristiwa negatif, maka Anda
bukan saja menambahnya, namun juga mendatangkan lebih banyak
hal negatif ke dalam hidup Anda sendiri,” demikian untuk mengutip
kembali ungkapan Rhonda Byrne.
Jadi bagaimana? Cobalah mengeksplorasi butiran butiran
jawabannya. Untuk sementara, silakan kembali
mereguk kopi hangat yang sudah ada di meja. Seruputlah kopi
itu pelan-pelan, sambil berbisik dalam hati :

life is good….yeah, life is
good.

Dimasa Dunia belum lagi aman!

Posted in Uncategorized on 31 Oktober 2009 by fdr lamser

Dimasa Dunia belum lagi aman !
Beberapa Negara Industri sudah berdasarkan sosialisme dan komunisme.
Tetapi bertentangan dengan itu ada pula beberapa Negara yang berdasarkan kapitalisme
yang muda kuat. Diantara kedua jenis dasar Negara itu didapati dasar perantaraan, setengah
kapitalistis dan setengah sosialistis. Pada beberapa Negara ini pertarungan klas seru sengit
berlaku.
Negara Indonesia berdasarkan sosialistis yang tiada berdasarkan imperialisme dan
kapitalisme lagi sudah beberapa lama berdiri tegap. Daerahnya Negara ini tidak lagi dalam arti
sempitnya sekarang, tetapi sudah memeluk sebagian besar dari Benua Asia Selatan, yang
sekarang cerai-berai yang dinamai Birma, Siam, Annam, Malaka, Indonesia Sempit,
kepulauan Filipina dan Australia Katulistiwa. Nama resminya Negara Baru ini ialah Federasi
Aslia rapat dengan Australia dingin.
Pusat perindustrian yang dimaksudkan ialah industri-jiwa, heavy-industry, bukanlah satu.
Yang terpenting adalah empat : (1) menurut keperluan diplomasi dan strategy keempat arah
didunia yang belum aman ini ; (2) menrut adanya bahan dan kodrat mesin seperti adanya air
mancur, arang atau minyak ; (3) menurut perhubungan lalu lintas ; (4) menurut adanya kaum
pekerja dan lain-lainnya. Empat industri dicocokkan dengan 4 syarat tersebut diatas.
Saya dengan beberapa pemuda/pemudi mengunjungi pusat industri yang terpenting di
Aslia, kalau tidak didunia. Letaknya adalah segaris dengan sumbu, dengan Katulistiwa, yang
kira-kira ditentukan oleh garis Bonjol-Malaka. Sumbu ini pada zaman purbakala mendapat
perhatian penuh dari pihak Negara yang langsung atau membelit mempersatukan Indonesia
Raya. Keduanya kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit memusatkan strategi pada sumbu
ini. Pusat ini jadinya memenuhi sayarat pertama strategi dan diplomasi.
Tiada mengherankan ! Sumbu ini meguasai dua Benua dan dua Samudra terbesar dihari
depan. Dengan artinya tenkik dan ekonomi zaman sekarang sumbu ini mendapat jiwa yang
bagus, lebih kukuh dari yang sudah-sudah. Logam besi, alumunium dan bauxite buat
pembajaan besi biasa, timah buat keperluan industri ketentaraan, arang, listrik (air mancur)
serta minyak tanah buat kodrat mesin, kayu dan lain-lain bahan semuanya Bahan buat
Industri-jiwa (heavy industry) (sebab memang penting buat mempertahankan Indonesia
seluruhnya) berada dalam keadaan yang luar biasa ; banyak, baik dan berdekatan !
Karena pentingnya sumbu-Dunia ini, maka sudah lama Federasi Aslia menggali
terowongan, yang menyambung Sumatera dengan Semenanjung Malaka. Kota Malaka sendiri
sekarang dengan satu kota dihadapannya di Sumatera sudah menjadi pangkalan kapal perang
yang terutama, buat menguasai Selat Malaka. Dengan begitu menguasai dua Benua dan Dua
Samudra ! Beberapa terusan yang memperhubungan sungai besar, ialah Siak dan Kampar,
sudah digali. Juga kedua sungati ini sudah diperdalam dan dibentuk tebingnya. Perhubungan
sepanjang sumbu Bonjol-Malak itu kendaraan diatas dan dibawah air, serta diudara berjalan
tiada berhentinya ! indsutri tadi dengan kereta lori dan kapal. Begitu juga tak berhentinya
bermacam-macam kendaraan, tak putus-putusnya lalu-lintas siap mengangkut bahan atau
barang, serta kaum pekerja yang terutama datang dari pulau Jawa.
Ketika kami dari atas bukit mengagumi bumi yang permai dan langit yang jernih,
mataharinya mulai naik serta memancarkan sinar yang sehat-segar, yang paling muda diantara
kami, berlari menuju ketebing jalan kereta, menelungkup berama-ramai. Tetapi dengan giat
gemetar, melambaikan kedua tangannya kepada kami memanggil dengan teriak. Kami lari
ketempatnya ! Slah satu pemuda, mahasiswa, ketika kami semua masih hening takjub melihat
kereta api, panjang, naik bukit menuju ketempat kami, dengan suara lemah menggeletarkan
kira-kira : “Perhatikanlah induk mesin itu ! Alangkah keras kerjanya ! Asap nafasnya
berbual-bualan : Keringatnya kurasa panasnya ! Dengarlah puputnya memberi pnegawasan.
Ketepi-ketepi, aku lari ! Jangan lariku terganggu ! Berapa ribu kilo barang kuangkut lari !
Beberapa ratus jiwa dibelakangku. Perempuan, lelaki, pemuda pemudi, kanak-kanak dan bayi.
Ketepi-ketepi, teriakku sekali lagi. Bahayamu adlaah noda bagi diriku. Keselamatan semua
aku tanggung, jadi mesti kutepati. Saut menit terlambat menghilangkan namaku. Abangku
masinis langsung bertanggung jawab. James Watt nama nenekku ! Cepat cakap dan aman
sentausa inilah semboyanku ! Kesempurnaan inilah hari depanku.

Madilog – Tan Malaka

Solidaritas

Posted in Uncategorized on 22 Oktober 2009 by fdr lamser

SOLIDARITAS

Solidaritas seringkali dijadikan pembenaran atas sikap-sikap tertentu. Terkadang solidaritas diperlukan untuk menghadapi masalah, Keasadaran bahwa masalah harus dipecahkan bersama-sama. Solidaritas menarik orang keluar dari esklusivisme , karena punya keterkaitan hubungan erat dengan sikap altruis, Dilawankan dengan komunalisme karena solidaritas berasal dari solid yang terdiri dari unsur kokoh, kuat dan kompak.

Solidaritas Yesus mengajarkan untuk berbelarasa dengan orang kecil, kepekaan terhadap kebutuhan sesama, berpihak dan terlibat dalam permasalahan-permasalahan sosial. Sehingga membina nilai universal, mengajak orang muda bergaul dalam seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya sekedar berbela rasa, tapi bagaimana mampu mengantar orang muda membangun komunitas-komunitas pengharapan.

Dasar dari nilai ini adalah Cinta Kasih, Murah Hati, Benar dan Adil. Kesatuan dan Aksi . Persatuan di antara kita untuk melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, dan mampu melakukan aksi nyata. Sudah saatnya perubahan paradigma dari hidup bersama menjadi hidup bersama.
Salam semangat SOLIDARITAS!!!!.

Semoga Semangat SUMPAH PEMUDA 1928 masih nyata di INDONESIA dewasa kini. Menjaga nilai solidaritas di dalam kaum muda sebagai elemen perubahan.
Teriring salam Pemuda dan Pemudi Indonesia.

Merdeka adalah bangkit
dari mimpi untuk
mewujudkannya.

Hakikat Hidup

Posted in Uncategorized on 15 September 2009 by fdr lamser

Hakekat manusia adalah sebagai berikut :

1.Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
2.Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.
3.Individu yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
4.Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
5.Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
6.Suatu keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
7.Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
8.Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.

Schizophrenia

Posted in Uncategorized on 14 September 2009 by fdr lamser

Schizophrenia adalah kelainan otak yang kronis, parah dan membuatnya tidak berfungsi,
dan telah dikenal orang disepanjang sejarah. Kelainan ini mempengaruhi sekitar 1 persen orang amerika. Orang dengan schizophrenia dapat mendengar suara yang tidak didengar orang lain atau mereka dapat percaya bahwa orang lain membaca pikiran mereka, mengendalikan pikiran mereka atau berencana menyakiti mereka. Pengalaman-pengalaman ini amat mengerikan dan dapat menyebabkan ketakutan, kecanduan atau kemarahan yang ekstrim. Orang dengan schizophrenia dapat berbicara yang tidak masuk akal, dapat duduk selama berjam-jam tanpa bergerak atau banyak bicara, atau dapat terlihat baik-baik saja sampai mereka mengatakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.
Karena kebanyakan orang dengan schizophrenia memiliki kesulitan dalam bekerja atau mengurusi diri mereka sendiri, beban pada keluarga dan masyarakat menjadi cukup signifikan. Perawatan yang tersedia dapat melepaskan banyak dari gejala-gejala gangguan ini, namun kebanyakan orang yang mengalami schizophrenia harus tetap mengalami gangguan yang tersisa sepanjang hidup mereka. Meskipun demikian, ini adalah waktu pengharapan bagi para penderita schizophrenia dan keluarga mereka. Banyak orang yang mengidap kelainan ini sekarang mulai memperoleh hidup yang berarti dan dihargai dalam komunitas mereka. Para peneliti membangun pengobatan yang lebih efektif dan menggunakan peralatan riset baru untuk memahami penyebab schizophrenia dan untuk menemukan cara untuk mencegah dan menanganinya.
Brosur ini menyediakan informasi gejala schizophrenia, kapan gejala timbul, bagaimana penyakit berkembang, perawatan yang mutakhir, dukungan untuk pasien dan orang-orang yang mereka cintai dan arah baru penelitian tentang schizophrenia.

“If you talk to GOD, it’s prayer. If GOD talks to you, it’s schizophrenia.

Kesadaran Sejarah

Posted in Uncategorized on 31 Agustus 2009 by fdr lamser

Kita adalah mahluk yang hidup dalam sejarah, kita dipengaruhi dan juga turut mempengaruhi suatu sejarah. Sejarah dapat membentuk, memperkaya, memperkuat atau menolong kita untuk menemukan identitas kita. Sebaliknya, sejarah juga dapat mengaburkan banyak hal dalam kehidupan kita. Pada kenyataannya sejarah tidaklah statis, tetapi dinamis. Realitas sebagai produk sejarah dipahami sebagai sesuatu yang terus mengalir dan berubah. Apa yang kini dan di sini tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi sebelumnya. Oleh karena itu kesadaran sejarah adalah sesuatu yang sangat diperlukan. Gadamer menyebut bahwa sejarah adalah saat dimana kita selalu dapat berefleksi diri.
Sebagai mahluk yang hidup dan dibentuk dalam sejarah, pemahaman kitapun tidak bisa lepas dari sejarah. Kita memahami suatu teks, peristiwa, situasi dan keadaan yang ada bukan dengan kesadaran yang kosong tetapi dengan pra-sangka tertentu yang sudah ada dalam diri kita. Kita tidak dapat melepaskan diri dari prasangka, karena kita terikat dengan dunia dimana kita hidup. Dalam hal ini, Gadamer adalah seorang filsuf terkemuka yang telah banyak mempengaruhi perkembangan pendekatan hermeneutika sampai sekarang ini menghargai tradisi dan otoritas.
Prasangka yang dibentuk oleh sejarah akan menolong kita untuk berpikir dan memungkinkan kita untuk memiliki pemahaman. Prasangka itu berfungsi seperti saringan yang menyebabkan kita bisa melihat atau memahami sesuatu atau tidak melihat dan tidak memahami sesuatu. Prasangka harus terbuka terhadap dunia yang ada di luar diri kita – apakah itu teks, peristiwa, situasi dan keadaan, atau pendapat. Keterbukaan itu perlu supaya prasangka tidak dijadikan sebagai suatu kebenaran yang diabsolutekan, tetapi memungkinkan kita untuk mengkritisinya, mana prasangka yang dapat diterima dan mana yang harus disingkirkan.
Dalam hal ini bisa terjadi penggabungan kedua cakrawala atau fusion of the two horizons. Penggabungan ini tidak berarti bahwa kita selalu akan menghasilkan sebuah campuran yang seimbang diantara cakrawala masa lalu dan cakrawala masa kini. Juga tidak berarti bahwa cakrawala masa kini akan mendominasi cakrawala masa lalu. Sebaliknya, yang dimaksud Gadamer adalah makna asli hanya dapat diperoleh melalui penggabungan (integrasi) kedua cakrawala. Gadamer mau menekankan interaksi diantara kedua cakrawala dan bukan mengenai dominasi satu cakrawala terhadap cakrawala yang lainnya. Yang dibicarakan adalah cakrawala yang bergerak meluas, cakrawala kita diperluas dalam pertemuan dengan yang lain, sehingga kita dapat memahami cakrawala yang lain itu melalui cakrawala kita. Dalam penggabungan kedua cakrawala itu, maka yang baru dengan yang lama membentuk sebuah proses komunikasi yang dibangun lewat dialog. Dialog yang memungkinkan setiap pihak saling menentukan satu sama lain. Dalam interaksi demikian setiap pihak saling mengubah supaya kebenaran dapat ditemukan.
Kesadaran sejarah tidak hanya menerima begitu saja peristiwa atau teks masa lampau, tetapi berefleksi atasnya, merefleksikannya dalam konteks dimana ia berakar, dalam rangka mencari makna-makna dan nilai-nilai yang berhubungan dengannya. Bentuk refleksi seperti ini disebut interpretasi. Kita tidak hanya menginterpretasi peristiwa sejarah tetapi juga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tentu nilai-nilai itu akan diaplikasikan terhadap situasi tertentu, sebab aplikasi adalah suatu bagian yang penting dan menentukan. Objek dari aplikasi kita, menentukan dari awal dan dalam keseluruhan kenyataan serta isi konkret pemahaman hermeneutis. Karena itu tugas hermeneutis terutama berada diantara yang “familiar’ dan “asing”. Fungsinya adalah untuk membangun hubungan makna teks terhadap suasana kekinian. Hermeneutika tidak hanya sekedar sebagai upaya untuk masuk ke dalam suatu dunia lain, tetapi untuk menjangkau jarak antara teks dan situasi kekinian. Hermeneutika tidak hanya merupakan penjelasan apa yang dimaksud oleh teks dalam dunianya sendiri tetapi juga apa yang dimaksudkannya dalam moment kekinian kita.
Seorang penafsir tidak bisa tidak akan terikat dalam konteks sejarah tempat ia berpijak. Karena itu penafsir harus terbuka untuk masalampau, kini bahkan yang akan datang. Sebab makna dari sebuah karya bagi kita adalah produk integrasi horizon kekinian kita sendiri dan horizon karya tersebut. Dengan demikian proses hermeneutika yang kita lakukan tidak hanya sekedar merekonstruksi atau mendekonstruksi masalampau, tetapi merupakan suatu upaya kreatif dan kritis untuk memproduksi makna yang aplikatif.
Dalam pemahaman hermeneutika seperti itu, kita menemukan relasi dialogis antara masa lampau dan masa kini. Apa yang menjadi “milik saya” ditransformasikan ke dalam suatu bentuk baru melalui relasi dialogis dengan milik yang lain. Di sini ada kesatuan antara “milik saya” dengan “yang lain” yang kemudian menjadi suatu pemahaman yang baru dan otentik. Dalam hal ini objek sejarah adalah kesatuan antara yang satu dengan yang lain. Realitas demikian dipahami sebagai produktifitas sejarah- mengefektifkan hubungan masa lalu dan sekarang sebagai jalan menemukan kebenaran

Kaum Marginal

Posted in Uncategorized on 29 Agustus 2009 by fdr lamser

Kaum marginal, demokrasi, dan noda nurani

Di negeri ini, kaum marginal menjadi elemen bangsa yang selalu disalahkan. Hak hidup kaum papa ini seringkali dipersempit dalam ruang gelap menyedihkan. Warga miskin, pemulung, pengamen, gelandangan dan penduduk dengan status sosial rendah, hanya dipandang sebelah mata. Predikat untuk kaum marginal pun sungguh menyakitkan; sampah masyarakat.

Padahal, sebagai bagian dari konstruksi bangsa besar tak selayaknya kaum marginal terpinggirkan dari gebyar panggung kehidupan. Warga miskin hidup dengan nafas tersengal dan sisa impian yang tak mewujud.

Dalam ruang demokrasi yang menjanjikan kesetaraan, kebebasan argumen, dan pluralisme ideologi, hak politik kaum marginal terpasung dalam ruang pengap yang tak terjamah. Warga pinggiran yang menjadi penggerak dinamika kehidupan grassroot, berhak mendapatkan kesempatan kerja dan kebebasan politik yang sama dengan kaum lain. Di negeri zamrud khatulistiwa yang melimpah kekayaan alam, paradoks kehidupan menghadang, kaum miskin yang jauh dari sejuknya kesejahteraan, berjejal di lorong gelap dan desa-desa tertinggal. Apalagi menjelang 2009, warga kecil seakan menjadi komoditas politik yang dipermainkan kaum elite.

Ironisnya, kaum miskin hanya menjadi objek proyek yang dinikmati pejabat dan pengusaha kaya. Bantuan kesehatan, subsidi minyak dan listrik, program peningkatan kesejahteraan seringkali tak menyentuh nafas kaum miskin. Program dan proyek pengentasan kaum miskin menjadi stagnan, karena yang menjadi eksekutor didominasi aktivis dengan ’’nurani gelap” dan kroni pejabat korup.

Energi kaum miskin diperas dan dipekerjakan di ladang proyek yang menguntungkan segelintir orang. Warga yang tak mendapat kesempatan pendidikan cukup, hanya menjadi pekerja kasar, dengan standar hidup memprihatinkan. Ketika bencana melanda, warga kecil mendapat bantuan terakhir. Kaum miskin yang tinggal di pelosok, jauh dari uluran tangan pemerintah. Nestapa inilah yang menjadi bayang hitam kehidupan kaum marginal.

Kesempatan kerja bagi warga kecil semakin dipersempit. Ladang pekerjaan sebagai petani tak lagi menjadi hal yang menarik, karena hasil yang diperoleh tak mencukupi kebutuhan hidup. Walaupun hasil pertanian negeri ini melimpah, nasib petani tak pernah berubah menjadi lebih baik. Petani yang tinggal di desa terpencil hanya menjadi korban dari hegemoni dan manipulasi pengusaha dan pejabat yang kehilangan nurani. Buktinya, setelah petani jungkirbalik mengolah tanah dan menghasilkan beras serta tanaman lain, pemerintah dengan segala keteguhan mengimpor beras ke negeri tetangga. Padahal, di negeri ini, dengan potensi pertanian yang ada, masih mampu menjadi negara swadaya pangan. Akibatnya, petani kembali terjerembab pada lumpur hitam kepedihan.

Pintu pekerjaan yang penuh dengan jaminan kesejahteraan hidup seakan tertutup bagi kaum marginal. Karena dunia pekerjaan negeri ini hanya mengunggulkan gelar formal dari pendidikan tinggi. Kreativitas dan kualitas pribadi menjadi pertimbangan terakhir.

Akibatnya, tanpa bantual modal, celah pekerjaan bagi kaum marginal semakin sulit dimasuki. Mereka terlempar dari gelanggang kompetisi perebutan pekerjaan, menjadi kuli bangunan, pemulung, tukang sampah, pedagang asongan dengan modal hutang dan pekerjaan lain yang berisiko tinggi dan membahayakan kesehatan.

Di Malaysia, celah pekerjaan menjadi buruh bangunan terbuka bagi warga Indonesia, karena warga negeri jiran tak berani melakukan pekerjaan dengan risiko menggunung. Dengan kenekatan, bangsa ini menjadi bangsa kuli di negeri lain.

Hasil keringat yang mengalir dari tubuh warga kecil, dinikmati oleh pejabat dan kelompok elit lain. Kaum marginal yang menjadi pemulung, seakan hidup dengan sisa nafas yang terpenggal. Sementara keuntungan besar yang diperoleh dari bisnis daur ulang dinikmati pihak elite. Dengan demikian, lingkaran korupsi tak pernah berakhir.

Agenda kreatif
Pada titik ini, untuk mengembalikan nafas segar kehidupan kaum marginal, beberapa agenda ini akan menjadi entry point penting. Pertama, ruang kreatif. Kaum marginal membutuhkan pendamping untuk memberikan spirit kehidupan yang lebih kokoh.

Hal ini senada dengan pernyataan Antonio Gramsci (1983), bahwa tugas intelektual adalah segera bergabung bersama dengan kelas-kelas revolusioner. Intelektual harus secara organis berhubungan dengan klas buruh, menjadi bagian dari organisasi yang memang menyediakan kepemimpinan untuk kelas tertindas tersebut. Kaum intelektual dengan segenap wawasan, relasi dan perangkat keilmuan yang dimilikinya akan menjadi jembatan yang menghantarkan kaum miskin pada ruang kreativitas utuh. Dengan demikian, warga kecil tak lagi menjadi silent minority, tetapi menjadi spoken minority yang memanggul kemerdekaan aspirasi.

Kedua, reorientasi kebijakan pemerintah. Arah kebijakan pemerintah terhadap kehidupan warga miskin yang bias, harus dibenahi dengan mengusung kebijakan baru yang menyentuh kehidupan kaum marginal. Bantuan kesejahteraan bagi kaum marginal selama ini menjadi stagnan, dan dinikmati oleh kaum elit yang memegang kebijakan. Selain itu, subsidi bagi kaum miskin justru salah sasaran. Ruang demokrasi kaum marginal juga harus diperlebar dengan memberikan hak politik yang setara. Untuk itulah, suara kaum marginal hendaknya didengarkan dan menjadi bagian penting dalam proses demokratisasi, khususnya dalam momentum pilgub dan pilkada yang digela di berbagai daerah.

Ketiga, kesadaran kemanusiaan. Lompatan kesejahteraan bagi kaum marginal hanya dapat ditempuh dengan bangkitnya kesadaran kemanusiaan bangsa. Memandang kaum marginal sebagai bagian bangsa yang tak terpisahkan dan memberikan kesempatan hidup, ladang pekerjaan, dan ruang kreativitas setara dengan warga lain. Kesadaran utuh inilah yang akan mengantarkan bangsa ini pada aras puncak kebudayaan, yang didukung oleh manusia yang memanggul spirit nasionalisme dan arus kearifan tanpa pernah kering. Hal inilah yang dirindukan oleh YB Mangunwijaya (1999), dengan lahirnya ’’manusia pasca-Indonesia”, yakni manusia Indonesia yang tersebar di berbagai suku, akan tetapi memiliki pemahaman nasionalisme yang lebih luas, horizon kearifan tanpa batas dan nurani kebangsaan yang semakin utuh. Agenda kreatif inilah yang menjadikan kaum marginal di negeri ini terjamin kemerdekaan hidupnya.
Disertai dengan suatu perubahan tatanan sistem untuk pembangunan sumber daya manusia yang baik. Sehingga kaum marginal dapat bangkit dan mendapatkan derajat yang sama di dalam masyarakat. Maka dari hal tersebut tidak ada lagi perbedaan anatara si kaya dan si miskin.

 

Enam Warna

Posted in Uncategorized on 29 Agustus 2009 by fdr lamser

Menurut versi Hinayana, Sidharta memperoleh Penerangan atau Pencerahan Agung dan menjadi Buddha (Samyak-Sam-Buddha) dibawah pohon Bodhi di Bodh-Gaya, pada saat bulan Purnama Sidhi pada hari Waisak, pada usia 35 tahun. Sedangkan menurut versi Mahayana, Beliau mencapai Penerangan atau menjadi Buddha Shakyamuni (Samyak-Sam-Buddha) pada tanggal 8 bulan 12 (lunar).

Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha, dari tubuh suci Beliau memancarkan enam sinar yang disebut Buddharasmi atau Sinar Buddha.
Sejak saat itu dan selama hidup-Nya, Beliau dapat memancarkan enam sinar suci itu bilamana dikehendaki-Nya. Kadang-kadang Beliau mengirim sinar suci-Nya dengan warna-warna itu untuk mengubah tabiat para manusia.

Enam warna sinar-Nya adalah :

1. Nila = biru.
Berarti bakti atau pengabdian. Dia telah menjadi Buddha mempunyai sifat bakti dan pengabdian yang tiada taranya kepada manusia yang menderita.

2. Pita = kuning.
Berarti kebijaksanaan, mahatahu, seorang Buddha adalah berpengetahuan luas dan mahatahu (Sarvakarajnata).

3. Rohita = merah.
Berarti kasih sayang dan welas asih. Seorang Buddha mempunyai rasa maha kasih sayang dan maha welas asih yang tidak terbatas terhadap semua makhluk. Pada seorang Buddha sudah tidak ada lagi rasa benci, sentimen, kejam, iri hati, dan dengki, yang ada pada diri-Nya hanya maha welas asih kasihan tanpa perbedaan dan perasaan bahagia bila mengetahui atau melihat orang lain dapat hidup senang dan bahagia.

4. Avadata = putih
Berarti suci. Seorang Buddha telah suci batin-Nya dan pikiran-Nya tidak dapat dikotori lagi oleh segala macam kekotoran dunia. Maka dari itu seorang Buddha atau Bodhisattva dilukiskan sebagai mutiara yang berada di atas bunga teratai (mani-padma).
Bunga teratai meskipun tumbuh dirawa yang penuh lumpur, diatas bunga teratai itulah seorang Buddha atau Bodhisattva duduk atau berdiri laksana mutiara yang putih berkilauan, yang bebas dari segala kekotoran dan tidak dapat kena kotoran karena dialasi bunga teratai.

5. Manjistha = orange, jingga.
Berarti giat, Seorang Buddha mempunyai semangat yang luar biasa, giat menyebar Dharma kepada dewa dan manusia serta melakukan segala perbuatan baik yang berfaedah bagi orang banyak dan makhluk-makhluk lainnya.

6. Prabhasvara = bersinar-sinar, sangat terang, cemerlang merupakan warna campuran dari kelima warna tersebut diatas; berarti campuran dari kelima sifat tersebut diatas.

Lenin di Depan Tuhan

Posted in Uncategorized on 28 Agustus 2009 by fdr lamser

Sungguh di segala ruang dan roh dunia ini

WujudMu termaktub dan gitu juga sifatMu abadi

Betapa aku akan tahu, kau ada ataupun tak ada

Selagi hitungan akan ‘nentiasa berkisar dan berganti?’

Siapakah yang mendengar musik kejadian segala ini

Peninjau kembang puspita

Atau penghitung bintang kemintang?

Hari ini kulihat kerajaan dan kaum gereja

Sedang kami meringkuk, dibelenggu hari dan malam

Kau, pembina dan abadi, perona sang zaman

Tuhan, berikanlah padaku waktu seketika menjawab soalku

Selamanya ini tak terdiamkan kaum sarjana.

(Dari : “Lenin di Depan Tuhan”) 1971